PERENCANAAN PESISIR




CRITICAL REVIEW JURNAL 
ISU - ISU PERENCANAAN PESISIR

1.1 Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan berisi identitas dari jurnal yang akan dilakukan critical review oleh pembaca.

1.1.1 Identitas Jurnal
Adapun jurnal yang digunakan dalam melakukan critical review berjudul Studi Dampak Pengembangan Pemukiman di Wilayah Pesisir Surabaya Timur, Agregat Vol.1, No.1, November 2016. Jurnal ini ditulis oleh Anna Rosytha dari Program Studi Teknik Sipil, Universitas Muhammadiyah Surabaya.

1.2 Pembahasan
Pada bagian ini akan dilakukan review jurnal yang selanjutnya akan dilakukan critical review pada jurnal tersebut.

1.2.1 Latar Belakang Permasalahan
Sebuah kota akan terus mengalami perkembangan seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini terjadi tentu untuk memebuhi kebutuhan dari penduduk yang tinggal di dalamnya. Semakin bertambahnya jumlah penduduk di suatu kota tentu memerlukan ruang yang cukup besar. Keteidakseimbangan antara ketersediaan lahan dan jumlah penduduk yang ada mengharuskan terjadinya alih fungsi lahan pada kawasan – kawasan tertentu. Tentu saja alih fungsi lahan tersbeut pada akhirnya akan berubah menjadi kawasan permukiman dengan kondisi yang beragam. Dimana, permukiman yang berada di kawasan perkotaan maupun pedesaan memiliki fungsi sebagai tempat tinggal dan tempat berlangsungnya berbagai macam kegiatan. 
Namun, bertambahnya jumlah penduduk yang semakin pesat tentu mengharuskan terjadinya penambahan kebutuhan akan tempat tinggal. Hal ini tentu telah dipahami oleh para pengembang untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan memanfaatkan lahan yang masih ada di suatu kota. Tidak pasti dimana lahan itu berada seperti di pusat kota, pinggiran, dekat aliran sungai maupun pesisir, selama lahan tersebut dapat dimanfaatkan maka seiring berjalannya waktu akan muncul sebuah permukiman baru. Namun, hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan di suatu kawasan, misalnya saja permukiman di kawasan perkotaan akan memiliki kesan padat dan memiliki tingkat kejenuhan yang tentunya berbanding terbalik dengan daerah di sekitarnya. 
Dari situlah muncul permasalahan seperti terjadinya pemusatan kegiatan di kawasan tertentu, penggunaan lahan yang tercampur, alih fungsi lahan dari ruang terbuka menjadi lahan terbangun, lahan konservasi atau lahan hijau yang mengalami perubahan menjadi kawasan terbangun intensif. Akan menjadi masalah yang cukup kompleks saat terjadi pembangunan di wilayah pesisir yang merupakan tempat dimana beragam sumber daya hayati terkandung di dalamnya. 
Kawasan pesisir merupakan harapan bagi bangsa ini untuk masa depan nantinya. Kenyataannya banyak pembangunan yang justru mengakibatkan degradasi pada lingkungan pesisir seperti pencemaran dan abrasi pantai. Seperti yang terjadi di Kota Surabaya khususnya di wilayah pesisir Surabaya Timur. Banyaknya pendatang yang tinggal dan melakukan kegiatan untuk menopang kehidupan di kota ini menyebabkan banyak terjadi perubahan fungsi pada penggunaan lahan, terutama dalam pembangunan kawasan permukiman. Tidak jarang kawsan permukiman berdiri di pinggiran sungai, di bawah kolong jembatan, di atas pegunungan dengan akses yang sulit dan di wilayah pesisir. 
Jika diperhatikan dengan seksama tentu hal ini telah melanggar peraturan yang ada, dan akan mengganggu kemampuan suatu lahan untuk menopang bangunan di atasnya. Pada akhirnya kawasan permukiman tersebut dapat tumbuh menjadi kawasan permukiman kumuh yang akan menjadikan image kota berubah menjadi buruk. Oleh karena itulah si peneliti melakukan penelitian ini untuk mengidentifikasi mengenai dampak perkembangan kawasan permukiman khususnya di wilayah pesisir Surabaya Timur untuk dijadikan masukan dalam penentuan kebijkan arah pembangunan fisik kota. 

1.2.2 Isi Jurnal
Perkembangan kekotaan dipicu oleh dua peristiwa utama yang mewarnai perkembangan peradaban manusia dimuka bumi ini. Kedua peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa revolusi pertanian dan peristiwa revolusi industri. Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan seperti perkembangan sosial ekonomi, perkembangan industri, perkembangan transportasi (Teori Clark, 1982). Selain itu, menurut teori Herbert dan Thomas (1992), dimana keberadaan industri rumah tangga secara individual sebsnarnya sudah ada pada suatu kota semenjak orang mengenal peradaban kota, sehingga kata atau istilah industrialisasi akan lebih tepat, khususnya industri yang muncul sebagai akibat ditemukannya berbagai corak/jenis mesin dan kemudian dikembangkan di kota- kota dalam skala yang lebih besar dari sekedar industri rumah tangga. 
Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan kota seperti perkembangan pusat kota, perkembangan industri, kemajuan di bidang transportasi. Kedua teori tersebut menunjukkan adanya evolusi permukiman perkotaan yang berbeda beda. Selain itu, ditemukan pula faktor -faktor yang mempengaruhi penggunaan suatu lahan, yaitu pertambahan jumlah penduduk, perkembangan pusat kota, kemajuan di bidang transportasi, perkembangan sosial ekonomi dan pertumbuhan industri. 
Kota Surabaya merupakan ibu kota Provinsi Jawa Timur dan kota kedua terbesar setelah Jakarta. Sesuai fungsi dan perannya sebagai pusat perdagangan dan pendidikan telah menjadikan kota ini mengalami ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dan lahan yang tersedia. Dimana kepadatan penduduk di kota ini mencapai 83 jiwa/ha dan hal ini tentu memberikan dampak kepada penggunaan lahan di kota tersebut. Selain itu, kota ini juga hanya memiliki sedikit daerah resapan air hujan akibat dari pembangunan yang tidak diikuti dengan upaya pelestarian. Terjadi pula sedimentasi akibat dari erosi sebagai dampak dari pembangunan menyebabkan sungai menjadi dangkal dan mudah terjadi overtopping alirang sungai yang menggenangi daerah di sekitanya. Berdasarkan Undang – Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau pada pasal 29 ayat 2, ruang terbuka hijau yang ideal paling sedikit 30 persen dari luas kota. Sehingga dengan semakin sedikitnya luas penyebaran vegetasi dan ruang terbuka hijau akan mengakibatkan berkurangnya evaporasi dan intersepsi air hujan saat musim penghujan tiba. 
Kawasan mangrove yang merupakan kawasan konservasi di wilayah pesisir Kota Surabaya ini juga semakin sedikit luasya, hal ini terjadi karena lahan tersebut telah dikuasai oleh pihak pengembang dan masyarakat di sekitarnya. Sebanyak 70 persen kawasan mangrove di wilayah pesisir Surabaya Timur telah dikuasai oleh pihak pengembang. Dapat dilihat pada kawasan mangrove yang berubah fungsi menjadi perumahan, hotel dan apartemen. Menurut hasil temuan Tim Konsorsium Rumah Mangrove Surabaya Timur, lahan mangrove awalnya dikuasai oleh masayarakat, namun kini pihak pengembang telah mengambil alih kawasan tersebut. Sejumlah investor yangtelah menguasainya antara lain PT Dharmaland, PT SAC Nusantara dan PT Pakuwon. Dimana PT Dharmaland dan PT Pakuwon menguasai seluas 314 hektar dan PT SAC Nusantara menguasai seluas 28 hektar.
Selain itu, sebagian kawasan mangrove juga mengalami alih fungsi lahan sebagai kawasan tambak dan permukiman. Luasan kawasan tambak dinilai lebih luas dari pada luasan daerah pantai dan sungai di sekitarnya. Dengan adanya tambak di kawasan ini memang akan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Namun, hal itu telah merusak kawasan mangrove yang merupakan kawasan konservasi dan masyarakat telah merusaknya dengan melakukan alih fungsi lahan tersebut. Permasalahan seperti abrasi yang terjadi saat air pasang, fragmetasi habitat yang berada di daerah pantai, mangrove dan sungai akan mempengaruhi keberlangsungan hidup ekosistem yang ada di dalamnya.
Status kepemilikan lahan juga memiliki pengaruh terhadap berkembangnya suatu permukiman. Menurut UU No.5 tahun 1960 tentang Peraturan Pokok – pokok Agraria pasal 4, hak – hak atas tanah secara spesifik dijelaskan dalam pasal 16 ayat 1 yang tediri dari hak milik sertifikat, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak sewa, hak pakai, hak pengeolaan dan tanah Negara. Dimana penguasaan aset ini dikuasai oleh pemerintah yang berupa BTKD, masyarakat dan swasta. Seiring bertambahnya jumlah penduduk di Surabaya ini tentu dapat mengancam keberlanjutan kota, terutama jika prosesnya tidak memperhatikan kondisi lingkugan sekitar. 
Kota Surabaya sendiri memiliki tiga kondisi geologis yang berbeda beda, yaitu wilayah pantai yang terdiri dari endapan pasir, wilayah rawa yang tersusun oleh lempung dan wilayah pedataran yang bergelombang dan tersusun oleh batu pasir, batu lempung dan napal. Dimana, kondisi geologis seperti wilayah pantai dan rawa cukup rawan terhadap banjir dan sedimentasi. Jenis tanah di kota ini pun terdiri dari alluvial hidromorf, alluvial kelabu tua dan alluvial kelabu serta grumusol. Jenis tanah ini telah menyebabkan penurunan permukaan tanah si sisi utara dan timur serta menembah proses sedimentasi pada drainase.
Hal ini dapat mengurangi kapasitas penampungan saluran drainase dan menyebabkan air meluap menjadi genangan banjir yang makin parah. Berdasarkan data dari Dinas Bina Marga dan Tata Kota Surabaya mencatat bahwa terjadi banjir yang serius pada tanggal 31 Januari 2009 di Desa Warugunung, Kecamatan Karangpilang, dimana genangan yang terjadi setinggi 50 – 100 cm. Untuk mengatasi hal ini Dinas Bina Marga dan Tata Kota telah mengupayakan berbagai hal dan dapat dilihat pada Surabaya Drainage Master Plan (SDMP). Dan pada tahun 2000 – 2007 luas genangan banjir telah mengalami penurunan hingga 29,3%. 
Dimana pada tahun 2000 luas wilayah tergenang seluas 4000 ha dengan durasi 6 jam dan tinggi genangan 60 cm. Sedangkan di tahun 2007, luas genangan menurun menjadi 2.825 ha dengan durasi 3 jam dan tinggi genangan maksimal 27 cm. Hal ini dapat di atasi karena SDMP telah menerapkan konsep pengoperasian rumah pompa dan bozem penampungan air buangan dari saluran pipa primer sebelum air dibuang ke laut. Di sisi lain, SDMP dinilai belum berhasil menangani masalah ini secara maksimal, hal ini dikarenakan jumlah dari pompa hanya terdapat 33 unit dari total 66 unit yang telah disediakan. 

1.2.3 Metodologi Penelitian
Dalam melakukan penelitan penulis menggunakan pendekatan rasionalisme dengan menggunakan metode analisa deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Menggunakan data sekunder yang diperoleh dari dokumen terkait faktor – faktor penyebab dampak akibat pengaruh perkembangan permukiman. Kemudian, peneliti melakukan observasi untuk mendapatkan data penunjang lainnya. dalam melakukan analisis, pemulis menggunakan bantuan ArcGis dan analisis deskriptif kualitatif untuk mendapatkan faktor – faktor penyebab dampak akibat pengaruh perkembangan permukiman. Secara harfiah, SIG merupakan suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras dan lunak berisi data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk menangkap, menyimpan, memperbaiki, menganalisa dan menampilkan data dalam suati informasi berbasis geografis (Puntadewo A+, 2003). Serta analisis kualitatif dan kuantitatif untuk menari keterkitan antara pengaruh dari perkembangan permukiman terhadap penyebab dan dampaknya.

1.3 Critical Review
Jurnal berjudul Studi Dampak Pengembangan Pemukiman di Wilayah Pesisir Surabaya Timur oleh Anna Rosytha memiliki tujuan untuk menganalisa bagaimana arah kecenderungan atau dampak perkembangan kawasan permukiman wilayah pesisir Surabaya Timur. Secara umum tujuan yang dimaksud oleh penulis telah terjawab, hal ini juga didukung dengan adanya data yang cukup untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi di Kota Surabaya ini. Namun, menurut saya cakupan dari data yang dicantumkan terlalu umum, sedangkan lokasi yang dituju adalah wilayah pesisir Surabaya Timur. Sehingga, sedikit sulit untuk memahami bagaimana kondisi sebenarnya yang terjadi di wilayah pesisir tersebut. Namun, penjelasan dari kondisi wilayah yang menjadi topik bahasan sudah cukup jelas dan lengkap. Sehingga walaupun data yang disajikan hanya 2 tabel, itu sudah cukup dan pembaca dapat memahami isinya denga baik. 
Penjabaran dari data yang ada di tabel juga sudah sangat mendetil sehingga mempermudah pembaca untuk memahaminya. Jika dilihat dari gaya penulisannya, disajikan dengan bahasa yang baku sehingga cukup mudah untuk dipahami dan tidak berbelit belit. Penyajian abstrak juga cukup baik karena menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Selain itu, terdapat batasan masalah yang dapat membantu untuk memfokuskan pembahasan pada masalah yang diinginkan agar tidak keluar dari topik pembahasan. 
Dari isi jurnal sendiri sudah dapat menjelaskan dengan cukup lengkap dan informatif. Namun, untuk metode analisisnya tidak dicantumkan secara mendetil langkah langkah dan data yang digunakan, sehingga itu sedikit membingungkan. Alangkah baiknya jika penulis menyajikan proses melakukan analisis menggunakan ArcGis agar dapat dipahami dan mempermudah pemahaman pembaca. Pada hasil analisis dan pembahasan pun, penulis tidak mencantumkan hasil dari analisisnya dengan detil dan penjabaran yang ada pun tidak detil, sehingga sulit untuk memahami dan melihat bagaimana capaian dari tujuan awal, apakah sudah benar tercapai atau belum. Karena data yang disajikan oleh penulis merupakan data sekunder yang diperoleh dari dokumen pemerintah, bukan data hasil analisis yang telah dilakukan. Dalam hal itu, penulis hanya menarasikannya saja sehingga pembaca merasa sedikit kesulitan untuk mengetahui bagaimana pola perubahan dan kondisi tata guna lahan di wilayah tersebut. Mungkin jika penulis menyajikan peta hasil analisis dengan bantuan ArcGis akan membuat jurnal terlihat lebih menarik dan informatif. 

1.4 Penutup
Pada bagian penutup berisi kesimpulan penulis mengenai jurnal yang dibuatnya dan terdapat pula rekomendasi dari pembaca serta lesson learned yang diperoleh oleh pembaca.

1.4.1 Kesimpulan
Pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat telah mengakibatkan berubahnya fungsi lahan di wilayah pesisir Surabaya timur. Dimana kawasan hutan mangrove sebagai pelindung pesisir telah berubah fungsi menjadi kawasan permukiman, hotel dan apartemen. Hal ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus bertambah sementara lahan yang tersedia terbatas. Dengan begitu perlu diterapkan Perencanaan Tata Ruang Komprehensif berbasis Ekologis untuk memecahkan masalah tata ruang di Surabaya. Mengintegrasikan Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) ke dalam Rencana Tata Ruang Surabaya di masa mendatang untuk mengurangi beban infrastruktur drainase saat ini. Serta pengaplikasian pengendalian pembangunan sesuai dengan Rencana Tata Ruag dan Master Plan Drainage untuk mengurangi permasalahan banjir yang ada.

1.4.2 Rekomendasi
Untuk meminimalisir permasalahan menjadi semakin buruk di masa depan, alangkah baiknya jika segera dilakukan konservasi pada kawasan mangrove. Karena seperti yang telah diketahui bahwa mangrove memiliki peran yang cukup penting dalam menjaga wilayah pesisir dari gelombang dan bencana pesisir lainnya. Selain itu, perlu dilakukan penambahan ruang terbuka hijau sebagai sarana untuk penyerapan air yang berlebih, terutama di saat musim penghujan. Perlu juga mendesain ruang terbuka hijau dengan lebih baik untuk meminimalisir bencana banjir dan agar fungsi dari ruang terbuka hijau tersebut dapat terlaksana dengan efisien dan maksimal. Serta memperbaiki saluran drainase yang ada untuk mengurangi dampak sedimentasi, Dengan begitu, fungsi drainase akan kembali seperti yang seharusnya dan dapat menyalurkan volume air sesuai dengan kemampuan dari saluran drainase tersebut.

1.4.3 Lesson Learned
Setelah membaca dan memahami jurnal dapat diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap penggunaan dan fungsi dari suatu lahan. Serta permasalahan yang timbul di wilayah pesisir tidak hanya disebabkan oleh alam, namun juga aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh manusia tanpa mempedulikan kondisi lingkungan di sekitarnya. Dinas Bina Marga telah mencoba menerapkan konsep Surabaya Drainage Master Plan dan Perancanaan Tata Ruang Komprehensif berbasis Ekologis untuk meminimalisir bencana banjir di wilayah pesisir Surabaya. Namun, hal itu juga harus didukung dengan kesadaran dan aktivitas manusia agar tidak merusak dan lebih peduli pada alam.

Referensi 

Rosytha, Anna. 2016. “Studi Dampak Pengembangan Pemukiman di Wilayah Pesisir Surabaya Timur”. Program Studi Teknik Sipil, Universitas  Muhammadiyah Surabaya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta dan Komunikasi Pada Perenanaan Wilayah dan Kota

Try to make an essay... Upaya Pengelolaan Terumbu Karang Pulau Randayan